Nonton berita di TV ataupun baca di media online, sejumlah penumpang mengamuk dan bahkan memblokir terminal bandara Soetta. Belum lagi tidak ada kejelasan dari pihak maskapai yang tidak memberikan kompensasi apapun. Hal ini tentu saja bikin image Indonesia semakin jelek di mata international.
Selama saya pergi ke beberapa bandara di luar Indonesia, entah kenapa ya saya belum pernah mengalami yang namanya delay. Tapi di bandara-bandara Indonesia, apalagi penerbangan domestik, yang namanya delay sudah tidak heran lagi. Dan kita pun sebagai penumpang kadang kalau penerbangannya on time malah heran, hehehe.
Delay paling parah yang saya alami itu waktu penerbangan Jakarta-Pontianak menggunakan pesawat berlogo singa yang delay hampir 5 jam. Flight yang seharusnya berangkat pukul 06.30, belum ada tanda-tanda panggilan boarding dari embak-embak yang biasa nongkrong di waiting room. Akhirnya 2 jam kemudian barulah dipanggil, legaaaa...Sudah di pesawat selama kurang lebih 1 jam, saya pun sudah sempat tidur saking ngantuknya, eh pas bangun-bangun pesawat belum take off juga. Omaigat. Barulah ada pengumuman dari pramugari kalau seluruh penumpang disuruh turun karena pesawat tidak bisa berangkat dengan alasan gangguan teknis. 2 jam kemudian baru seluruh penumpang dinyatakan berangkat secara official. Selama menunggu itu kami cuma dikasih nasi kotak.
Ada lagi, waktu saya dari bandara Suvarnabhumi di Bangkok menggunakan pesawat Tiger Air tahun 2013 lalu. Ini bukan gara-gara delay, tapi emang keoonan gara-gara salah dengar dan baca papan informasi. Tiba di bandara, kami langsung check in, pas selesai check in saya membaca di papan informasi bahwa penerbangannya delay. Ok, masih ada waktu shopping-shopping di bandara. Pas udah selesai shopping, saya melihat tulisan di papan informasi bahwa nomor penerbangan kami "Final Call" dengan font berwarna merah, yang artinya kami harus ngibrit karena nama kami sudah dipanggil-panggil.
Bandara Suvarnabhumi itu gede banget, jangan mentang-mentang sudah check in terus bisa santai-santai kayak di Soetta? huh tamat riwayat kau! Kami harus lari sekencang mungkin untuk menggapai Gate yang kami tuju, saya sudah tidak melihat kiri kanan depan belakang lagi. Pokoknya lari secepat mungkin. Pas sudah tiba di pintu pesawat dan duduk, baru saya sadar..Cici saya menghilang! Oh Tuhan, panik berlanjut! Saya ke pintu pesawat dan ternyata pintu sudah ditutup, saya sudah tidak diperbolehkan keluar oleh pramugarinya. Tegang, panas dingin bercampur. Setelah 5 menit kemudian, baru cici saya nongol, saya tanya dia dari mana katanya dia duduk di lorong pesawat, kecapean mau pingsan habis lari hampir 1km ditambah drama salah arah dan kami belum sempat makan. Sumpah!