Friday, December 14, 2018

Tentang Asian Games 2018

Asian Games yang ke 18 telah berakhir beberapa waktu yang lalu, namun kenangan dan atmosfirnya masih terasa hingga hari ini. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya sebagai salah satu penonton yang menyaksikan beberapa pertandingan menarik meskipun saya tidak berkesempatan menyaksikan megahnya Opening dan Closing Ceremony nya.

Sebagai tuan rumah Asian Games yang ke 18 pada tahun 2018 ini saya sangat bangga Indonesia khususnya Jakarta dan Palembang terpilih kembali menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya setelah sebelumnya Jakarta juga pernah menjadi tuan rumah pada tahun 1962. Infrastruktur memang dikebut gila-gilaan meski pada akhirnya transportasi massal yaitu MRT yang tadinya ditargetkan akan dioperasikan pada penyelenggaran Asian Games 2018 ini tidak dapat beroperasi sesuai terget. Trotoar untuk pejalan kaki sepanjang Sudirman-Thamrin dan Asia Afrika Senayan juga dipercantik.

Dari segi penyelenggaraan event sebesar ini boleh dikatakan sukses, dimana pada pergelaran Asian Games ke 18 ini kita tidak hanya disuguhkan pertandingan-pertandingan olahraga dari berbagai cabang tetapi juga pameran kebudayaan, kuliner serta entertainment. Target medali emas yang sejatinya hanya ditargetkan sebanyak 16 emas namun tak disangka Indonesia dapat jauh melampaui target, total perolehan medali Indonesia hingga akhir pergelaran adalah 98 medali dengan rincian 31 medali emas, 24 medali perak, dan 43 medali perunggu. Pencapaian ini sekaligus memposisikan Indonesia berada di urutan ke 4 setelah China, Jepang, dan Korea. Dan ini merupakan raihan emas terbanyak Indonesia di Asian Games sepanjang sejarah.


Yang paling membanggakan adalah olah raga favorit saya badminton juga berhasil mencapai target dengan meraih 2 emas, 2 perak dan 4 perunggu. 2 emas diraih oleh Jonatan Christie dan Kevin/Marcus, 2 perak diraih oleh Fajar/Rian dan tim beregu putra, sedangkan 4 perunggu diraih oleh tim beregu putri, Tontowi/Liliyana, Anthony Sinisuka Ginting, dan Greysia/Apriyani.

Hari pertama setelah upacara pembukaan yaitu pada tanggal 19 Agustus 2018 saya menyaksikan cabang olah raga bulutangkis. Suasana di sekitaran Gelora Bung Karno sudah ramai sekali karena kebetulan pada hari itu adalah hari Minggu. Tiket masih dapat dibeli on the spot di ticket box yang tersedia. Namun hari-hari berikutnya suasana semakin padat, orang-orang yang berdatangan ke area GBK pun semakin banyak.

Drama dimulai ketika pada tanggal 22 Agustus 2018 adalah final bulutangkis beregu putra dimana tiket dinyatakan habis oleh panitia.Tiket ludes terjual baik  secara online maupun offline. Banyak penonton yang kecewa karena tidak kebagian tiket. Hal ini sudah terlihat pada malam sebelumnya yaitu pada semifinal ketika Indonesia berhadapan dengan Jepang dan menang kemudian ke final untuk menghadapi sang juara bertahan yaitu tim beregu putra China. Dari subuh sekali antrian ticket box sudah mengular, itu lah yang saya salutdari antusiasme masyarakat Indonesia. Namun sayang ticket box baru dibuka 20 menit dan kemudian panitia menyatakan kalau tiket sudah sold out, hal ini lah yang membuat para calon penonton 'ngamuk' karena merasa tidak masuk akal.Tidak hanya penonton asal Indonesia saja yang kecewa, para calon penonton banyak yang dari luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Korea, Jepang, dan China. Mereka juga kecewa sekali karena sudah datang jauh-jauh namun tidak kebagian tiket. Usut punya usut ternyata sejumlah kursi di Istora sudah di-booking oleh para sponsor dan beberapa tamu VIP.


Karena tidak kebagian tiket badminton, saya akhirnya memutuskan untuk menonton voli. Voli lebih sepi. Dan disela-sela menonton voli hati saya merasa tak puas dan tenang karena tidak bisa menyaksikan final bulutangkis tim beregu putra bermain. Saya balik lagi ke Istora sorenya untuk sekedar memastikan apakah ticket box kembali dibuka atau tidak. Namun beberapa menit saya berdiri di sekitar ticket box, pengantri di ticket box sudah dibubarkan oleh panitia karena tiket tidak akan dijual lagi. Kemudian ada mbak-mbak yang tiba-tiba ngomong "Saya punya 2 tiket final bulutangkis ada yang mau beli?" tanpa pikir panjang saya langsung menjawab "saya mbak!" kemudian mbak-mbak itu ngomong "ini saya jual 300 ribu ya" pada saat itu saya benar-benar merasa terhipnotis dan tidak bisa mikir lagi saking senangnya. Ada teriakan dari belakang "saya beli 400 ribu mbak", untung teman mbak itu membela saya "ngga bisa, mbak ini (saya) yang duluan", padahal saat itu saya tidak mengantongi duit cash yang cukup. Untung lah saat itu teman saya membawa cash. Puji Tuhan saya bisa menonton partai final meski tim Indonesia harus kalah.
Kalah menang bukan masalah, karena yang paling penting adalah pada hari itu seluruh masyarakat Indonesia bersatu untuk mendukung satu tim yaitu INDONESIA.

Selain menonton bulutangkis saya juga berkesempatan menyaksikan pertandingan cabang atletik di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sungguh ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hidup saya. Akhirnya saya bisa menonton pertandingan cabang atletik secara langsung.
Ini sungguh luar biasa, Stadion Utama Gelora Bung Karno sangat megah. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika dulu Bung Karno tidak membangun kompleks Gelora Bung Karno, apakah Indonesia masih bisa membangun sebuah kawasan olah raga yang mewah dan megah di tengah kota?

Animo masyarakat Indonesia sungguh luar biasa, banyak penonton yang datang dari luar daerah untuk menyaksikan pertandingan Asian Games atau sekedar berfoto-foto, makan dan belanja merchandise khusus Asian Games di kawasan GBK yang indah. Di sana kita juga bisa menikmati fasilitas free shuttle bus untuk mengelilingi kawasan GBK.

Hal yang tak kalah fenomenalnya adalah boneka maskot Asian Games 2018 yaitu Bhin Bhin, Atung dan Kaka yang selalu ludes terjual berapa pun yang dikeluarkan. Bahkan saya sendiri tidak kebagian karena sudah terlambat membelinya, antrian berjam-jam menjadi salah satu alasan saya untuk tidak memasuki Super Store (store khusus penjualan official merchandise) pada awal-awal penyelenggaraan Asian Games.

My big appreciation tentu saja saya berikan kepada seluruh tim penyelenggara Asian Games ke 18 ini, baik dari jajaran pemerintah, INASGOC, swasta, volunteer, para masyarakat dan tentu saja para atlet-atlet hebat yang telah mengharumkan nama Indonesia. Saya bangga kepada kalian!
Slogan "Energy of Asia" tentu sangat tepat dan tidak tidak lah berlebihan karena bangsa-bangsa di dunia pun turut memberikan apresiasi kepada kita.

Pengalaman menjadi bagian dari saksi sejarah ini mungkin tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup, Indonesia memang bangsa yang hebat, kita semua bersatu tanpa perbedaan hanya untuk satu nama yaitu INDONESIA!!

Jakarta, 12 Oktober 2018.