Monday, February 10, 2020

Asian Para Games 2018

Tahun 2018 yang lalu Indonesia telah sukses menyelenggarakan event olahraga terbesar se-Asia, Asian Games. Di tahun yang sama pulalah Indonesia turut menyelenggarakan Asian Para Games, yang mana adalah event yang levelnya sama dengan Asian Games, namun event ini diperuntukkan bagi atlet-atlet yang memiliki kebutuhan khusus.

Sungguh mengharukan bagaimana menyaksikan atlet-atlet yang memiliki keterbatasan secara fisik namun memiliki semangat yang luar biasa demi mengharumkan nama negaranya masing-masing. Penonton memang tidak sebanyak penonton Asian Games, tiket pertandingan juga dijual dengan harga yang jauh lebih murah daripada tiket Asian Games.

Melihat perjuangan atlet-atlet dengan keterbatasan fisik tersebut tanpa kenal lelah meski dengan ruang dan gerak terbatas, tak terasa air matapun menetes, tidak kuat rasanya. Sungguh kita harus lebih bersyukur lagi sudah diberikan Tuhan dengan fisik yang sempurna tapi masih sering mengeluh dengan keadaan. 

Hasil yang ditorehkan oleh tim Indonesia dari Asian Para Games 2018 ini juga melampaui target, tim Indonesia berhasil masuk ke 5 besar dengan meraih 37 medali emas 47 perak dan 51 perunggu. Dengan diadakannya ajang Asian Para Games 2018 ini semoga pemerintah dapat memberikan support yang sama seperti kepada atlet-atlet lainnya. Pembinaan, bonus, jaminan kesehatan, serta jaminan hidup di masa tua wajib diperhatikan. Karena mereka sama saja dengan atlet-atlet pada umumnya. Mereka sama berprestasinya, mereka mengharumkan nama Indonesia, dan yang paling penting kita semua sama di hadapan Sang Pencipta.

Thursday, July 11, 2019

Lee Chong Wei adalah Gambaran serta Bukti dari Hasil Kerja Keras dan Konsistensi

Sang legenda hidup Lee Chong Wei asal Malaysia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri karirnya  di dunia bulutangkis yang telah membesarkan namanya selama kurang lebih 19 tahun (2000-2019).  Ia terpaksa harus pensiun dan menggantungkan raket dan mimpinya untuk meraih medali emas Olimpiade akibat kanker hidung yang dideritanya.

Lee Chong Wei adalah sosok pekerja keras yang serius, tidak pernah sekalipun terlihat di raut wajahnya kesan "main-main" setiap kali Ia bertanding atau meremehkan lawan siapa pun yang dihadapinya. Chong Wei merupakan salah satu pemain bulutangkis yang paling konsisten, hal ini terbukti dengan torehan 69 gelar juara dan menduduki ranking 1 dunia  selama 349 minggu atau kurang lebih 7 tahun.

Pernah ketika saya sedang melancong ke Malaysia, saya menemukan sebuah majalah yang sedang menulis tentang sosok Lee Chong Wei. Disitu ditulis bahwa Ia tidak pernah jalan-jalan meskipun saat sedang bertanding di luar negeri. Bagaimana bisa jalan-jalan kalau Ia baru akan mengakhiri pertandingannya di hari terakhir pertandingan atau final dan besoknya Ia sudah harus langsung terbang ke negaranya atau melanjutkan turnamen selanjutnya. Jika memiliki waktu kosong setelah pertandingan Ia lebih memilih untuk istirahat atau latihan. Luar biasa bukan etos kerja kerasnya?
Mulai saat itulah saya mengagumi sosok seorang Lee Chong Wei.

Jika dilihat dari pesaing-pesaing pada jamannya seperti Taufik Hidayat dan Lin Dan, Lee Chong Wei memang tidak memiliki skill yang spesial. Namun hal ini Ia tepis dan ganti dengan latihan dan kerja keras, Chong Wei yang lebih mengandalkan power dan bermain dengan sangat ulet dan pantang menyerah dapat disejajarkan dengan Taufik Hidayat dan Lin Dan.

Lee Chong Wei juga merupakan sosok yang sangat dicintai publik Malaysia bahkan oleh Kesultanannya sendiri Chong Wei mendapat berbagai gelar kehormatan yang diselipkan di namanya dengan sebutan "Datuk" atau "Datuk Wira". Saking dicintainya Chong Wei mungkin tidak pernah diserang oleh para fans apabila Ia mengalami kekalahan, malahan sebaliknya Ia kembali di-support. Bahkan oleh pecinta bulutangkis Indonesia yang biasanya sangat anti terhadap pemain Malaysia, mereka menaruh respect yang tinggi apabila Ia bermain di Istora.

Lee Chong Wei adalah gambaran serta bukti dari hasil kerja keras dan konsistensi yang menghasilkan cinta yang begitu besar bagi rakyat Malaysia. Sehingga wajar saja ketika Ia mengumumkan akan mengakhiri karirnya Ia sampai meneteskan air mata.

Happy retirement my idol, enjoy your new life. Hope to see you again someday :)

Monday, April 1, 2019

Kenapa Jokowi?

April 2019 ini seluruh rakyat Indonesia akan kembali memilih presiden dan wakil presiden secara langsung. Tahun yang disebut juga dengan tahun politik yang cukup panas bagi kedua kubu pendukung masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presidennya. Praktis hal ini pula lah yang menjadikan banyak bermunculannya tim sukses dari kedua paslon.
Banyak juga campaign-campaign negatif yang kita dengar dari kedua kubu.

Nah, dari pada sibuk menjelekkan lawan politik alangkah lebih bagusnya kalau kita sebagai pendukung mengkampanyekan hal-hal yang sifatnya positif. Kalau ditanya nanti saya akan memilih siapa jelas saya akan memilih sesuai keinginan pribadi saya yaitu pasangan Joko Widodo dan Maaruf Amin.

Berikut ini alasan pribadi saya memilih Pak Jokowi, saya bukan tim sukses juga bukan orang politik, saya hanya memilih berdasarkan apa yang saya lihat dan yakini.


1. Pribadi yang Sederhana
Joko Widodo adalah presiden terbaik yang pernah saya tahu, pribadinya sangat sederhana bukan pencitraan semata. Hal ini juga yang ia wariskan kepada anak cucu serta menantunya. Pertama kali saya melihat sosok beliau adalah ketika pemilihan gubernur DKI Jakarta 2012. Jujur, saat itu saya lebih tahu sosok Pak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari pada Pak Jokowi. Karena Pak Ahok pernah menjadi perbincangan di komunitas Kristen dan pernah menjadi bintang tamu di acara Kick Andy.

Saya bertanya-tanya sendiri sebenarnya siapa sih bapak ini? Ngomongnya halus dan pelan khas orang Jawa, beda dengan Pak Ahok yang to the point. Akhirnya saya baru tahu kalau ternyata bapak ini adalah walikota Solo yang sangat dicintai rakyatnya karena telah melakukan berbagai terobosan dan rebranding kota Solo yang diakui sendiri oleh warga kota Solo

Pak Jokowi tidak neko-neko ketika bertemu rakyatnya, mau ketika diajak selfie tidak seperti presiden-presiden sebelumnya yang cukup menjaga jarak ketika bertemu dengan rakyatnya, mungkin alasan keselamatan juga. Dan salah satu hal yang saya baru lihat adalah Pak Jokowi tidak segan-segan bertatap muka langsung dengan para wartawan pemburu berita ketika dimintai pendapat mengenai masalah-masalah yang sedang terjadi. Dimana sebenarnya presiden memiliki juru bicara, mungkin saat ini juru bicara kepresiden banyak nganggurnya :D


2. Kerja Nyata dan Cepat
Dengan mengusung semboyan "Kerja Kerja Kerja!" dan dibantu dengan menteri-menteri Kabinet Kerja yang keren-keren, sudah tak terhitung lagi banyaknya hasil kerja dan pembangunan yang telah diselesaikannya dalam kurun waktu 5 tahun ini. Berbagai infrastruktur telah Ia bangun bersama dengan para menteri kabinet kerjanya seperti jalan tol yang sempat mangkrak di era pemeintahan sebelumnya, Bandara di daerah penghubung, pembangunan waduk dan bendungan untuk para petani, dan lainnya.

Salah satu yang benar-benar saya rasakan adalah dikebutnya jalan trans Kalimantan yang pengerjaannya sudah bertahun-tahun namun tak kunjung selesai. Sebelumnya, jalan yang menghubungkan kota Pontianak dengan Kabupaten Sanggau harus ditempuh dengan waktu 6-7 jam, namun dengan adanya jalan trans Kalimantan ini, waktu tempuh menjadi lebih singkat yaitu 2,5-3,5 jam saja. Bertahun-tahun proyek tersebut hanya dikerjakan sedikit, masih berlumpur dan berbatu apalagi ketika musim hujan, mobil-mobil bisa amblas ke dalam lubang, namun ketika Pak Jokowi memerintahkan untuk mempercepat pembangunan jalan tersebut, jalan tersebut pun selesai tidak terputus lagi.

3. Pembangunan Merata
Pak Jokowi tidak hanya melaksanakan pembangunan di Pulau Jawa saja, tetapi sampai ke Kalimantan dan Indonesia Timur.
Saya ingat betul ketika pada tahun 2010 saya berkunjung ke Malaysia via Entikong dan Sarawak, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Indonesia di Entikong (Kalimantan Barat) sangat berbeda jauh kondisinya dengan yang dimiliki oleh negara Malaysia. PLBN Indonesia terkesan kumuh dan tidak terawat, toilet sangat kotor dan bau, sementara milik Malaysia yang jaraknya beberapa meter sangat bersih dan rapi.
Belum lama menjabat, Pak Jokowi melakukan kunjungan ke Entikong, kemudian dia memerintahkan Menteri PUPR untuk melakukan perombakan bangungan di PLBN Entikong, targetnya 2 tahun, betul saja dalam waktu kurang dari 2 tahun PLBN Entikong sudah selesai pengerjaannya.

Dan tentu sudah bukan rahasia umum lagi kalau hanya Pak Jokowi yang mampu membuat BBM satu harga di daerah Papua.

Jadi, hal-hal sederhana itu lah yang menjadi alasan saya untuk kembali memilih Pak Jokowi. Kalau pun nanti Pak Jokowi tidak terpilih lagi saya tetap berharap Indonesia tetap mengalami kemajuan di era presiden yang baru, karena saya percaya meskipun presiden baru pasti punya tujuan yang sama yaitu untuk Indonesia yang lebih baik dan disegani oleh negara-negara lain.

Kepada tim sukses kedua kubu saya harapkan kita bisa melakukan kampanye damai tanpa menjelekkan paslon lawan, pemilu hanya 5 tahun sekali buat apa kita menambah dosa dengan mencaci maki orang yang bahkan kita tidak kenal. Stop negative campaign, stop black campaign. Damai itu indah jika kita saling bergandengan tangan.

May God bless Indonesia!

Friday, December 14, 2018

Tentang Asian Games 2018

Asian Games yang ke 18 telah berakhir beberapa waktu yang lalu, namun kenangan dan atmosfirnya masih terasa hingga hari ini. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya sebagai salah satu penonton yang menyaksikan beberapa pertandingan menarik meskipun saya tidak berkesempatan menyaksikan megahnya Opening dan Closing Ceremony nya.

Sebagai tuan rumah Asian Games yang ke 18 pada tahun 2018 ini saya sangat bangga Indonesia khususnya Jakarta dan Palembang terpilih kembali menjadi tuan rumah untuk kedua kalinya setelah sebelumnya Jakarta juga pernah menjadi tuan rumah pada tahun 1962. Infrastruktur memang dikebut gila-gilaan meski pada akhirnya transportasi massal yaitu MRT yang tadinya ditargetkan akan dioperasikan pada penyelenggaran Asian Games 2018 ini tidak dapat beroperasi sesuai terget. Trotoar untuk pejalan kaki sepanjang Sudirman-Thamrin dan Asia Afrika Senayan juga dipercantik.

Dari segi penyelenggaraan event sebesar ini boleh dikatakan sukses, dimana pada pergelaran Asian Games ke 18 ini kita tidak hanya disuguhkan pertandingan-pertandingan olahraga dari berbagai cabang tetapi juga pameran kebudayaan, kuliner serta entertainment. Target medali emas yang sejatinya hanya ditargetkan sebanyak 16 emas namun tak disangka Indonesia dapat jauh melampaui target, total perolehan medali Indonesia hingga akhir pergelaran adalah 98 medali dengan rincian 31 medali emas, 24 medali perak, dan 43 medali perunggu. Pencapaian ini sekaligus memposisikan Indonesia berada di urutan ke 4 setelah China, Jepang, dan Korea. Dan ini merupakan raihan emas terbanyak Indonesia di Asian Games sepanjang sejarah.


Yang paling membanggakan adalah olah raga favorit saya badminton juga berhasil mencapai target dengan meraih 2 emas, 2 perak dan 4 perunggu. 2 emas diraih oleh Jonatan Christie dan Kevin/Marcus, 2 perak diraih oleh Fajar/Rian dan tim beregu putra, sedangkan 4 perunggu diraih oleh tim beregu putri, Tontowi/Liliyana, Anthony Sinisuka Ginting, dan Greysia/Apriyani.

Hari pertama setelah upacara pembukaan yaitu pada tanggal 19 Agustus 2018 saya menyaksikan cabang olah raga bulutangkis. Suasana di sekitaran Gelora Bung Karno sudah ramai sekali karena kebetulan pada hari itu adalah hari Minggu. Tiket masih dapat dibeli on the spot di ticket box yang tersedia. Namun hari-hari berikutnya suasana semakin padat, orang-orang yang berdatangan ke area GBK pun semakin banyak.

Drama dimulai ketika pada tanggal 22 Agustus 2018 adalah final bulutangkis beregu putra dimana tiket dinyatakan habis oleh panitia.Tiket ludes terjual baik  secara online maupun offline. Banyak penonton yang kecewa karena tidak kebagian tiket. Hal ini sudah terlihat pada malam sebelumnya yaitu pada semifinal ketika Indonesia berhadapan dengan Jepang dan menang kemudian ke final untuk menghadapi sang juara bertahan yaitu tim beregu putra China. Dari subuh sekali antrian ticket box sudah mengular, itu lah yang saya salutdari antusiasme masyarakat Indonesia. Namun sayang ticket box baru dibuka 20 menit dan kemudian panitia menyatakan kalau tiket sudah sold out, hal ini lah yang membuat para calon penonton 'ngamuk' karena merasa tidak masuk akal.Tidak hanya penonton asal Indonesia saja yang kecewa, para calon penonton banyak yang dari luar negeri seperti Thailand, Malaysia, Korea, Jepang, dan China. Mereka juga kecewa sekali karena sudah datang jauh-jauh namun tidak kebagian tiket. Usut punya usut ternyata sejumlah kursi di Istora sudah di-booking oleh para sponsor dan beberapa tamu VIP.


Karena tidak kebagian tiket badminton, saya akhirnya memutuskan untuk menonton voli. Voli lebih sepi. Dan disela-sela menonton voli hati saya merasa tak puas dan tenang karena tidak bisa menyaksikan final bulutangkis tim beregu putra bermain. Saya balik lagi ke Istora sorenya untuk sekedar memastikan apakah ticket box kembali dibuka atau tidak. Namun beberapa menit saya berdiri di sekitar ticket box, pengantri di ticket box sudah dibubarkan oleh panitia karena tiket tidak akan dijual lagi. Kemudian ada mbak-mbak yang tiba-tiba ngomong "Saya punya 2 tiket final bulutangkis ada yang mau beli?" tanpa pikir panjang saya langsung menjawab "saya mbak!" kemudian mbak-mbak itu ngomong "ini saya jual 300 ribu ya" pada saat itu saya benar-benar merasa terhipnotis dan tidak bisa mikir lagi saking senangnya. Ada teriakan dari belakang "saya beli 400 ribu mbak", untung teman mbak itu membela saya "ngga bisa, mbak ini (saya) yang duluan", padahal saat itu saya tidak mengantongi duit cash yang cukup. Untung lah saat itu teman saya membawa cash. Puji Tuhan saya bisa menonton partai final meski tim Indonesia harus kalah.
Kalah menang bukan masalah, karena yang paling penting adalah pada hari itu seluruh masyarakat Indonesia bersatu untuk mendukung satu tim yaitu INDONESIA.

Selain menonton bulutangkis saya juga berkesempatan menyaksikan pertandingan cabang atletik di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Sungguh ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hidup saya. Akhirnya saya bisa menonton pertandingan cabang atletik secara langsung.
Ini sungguh luar biasa, Stadion Utama Gelora Bung Karno sangat megah. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika dulu Bung Karno tidak membangun kompleks Gelora Bung Karno, apakah Indonesia masih bisa membangun sebuah kawasan olah raga yang mewah dan megah di tengah kota?

Animo masyarakat Indonesia sungguh luar biasa, banyak penonton yang datang dari luar daerah untuk menyaksikan pertandingan Asian Games atau sekedar berfoto-foto, makan dan belanja merchandise khusus Asian Games di kawasan GBK yang indah. Di sana kita juga bisa menikmati fasilitas free shuttle bus untuk mengelilingi kawasan GBK.

Hal yang tak kalah fenomenalnya adalah boneka maskot Asian Games 2018 yaitu Bhin Bhin, Atung dan Kaka yang selalu ludes terjual berapa pun yang dikeluarkan. Bahkan saya sendiri tidak kebagian karena sudah terlambat membelinya, antrian berjam-jam menjadi salah satu alasan saya untuk tidak memasuki Super Store (store khusus penjualan official merchandise) pada awal-awal penyelenggaraan Asian Games.

My big appreciation tentu saja saya berikan kepada seluruh tim penyelenggara Asian Games ke 18 ini, baik dari jajaran pemerintah, INASGOC, swasta, volunteer, para masyarakat dan tentu saja para atlet-atlet hebat yang telah mengharumkan nama Indonesia. Saya bangga kepada kalian!
Slogan "Energy of Asia" tentu sangat tepat dan tidak tidak lah berlebihan karena bangsa-bangsa di dunia pun turut memberikan apresiasi kepada kita.

Pengalaman menjadi bagian dari saksi sejarah ini mungkin tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup, Indonesia memang bangsa yang hebat, kita semua bersatu tanpa perbedaan hanya untuk satu nama yaitu INDONESIA!!

Jakarta, 12 Oktober 2018.

Monday, February 6, 2017

Menikmati Festival Songkran di Thailand

Thailand, salah satu negara di Asia Tenggara yang menjadi destinasi kami waktu itu. Salah satu tujuan kami kesana adalah ingin ikut merasakan festival Songkran yang dirayakan oleh masyarakat Thailand. Menurut Wikipedia, Songkran adalah sebuah perayaan yang dirayakan di Thailand sebagai Hari Tahun Baru tradisional dari 13 sampai 15 April. Hari tersebut bertepatan dengan Tahun Baru pada beberapa kalender Asia Selatan dan Tenggara. 

Bagi yang suka belanja, sangat tidak disarankan untuk mengunjungi negara ini pada saat Songkran karena pada festival ini banyak toko dan gerai yang tutup, bahkan akses ke tempat wisata pun susah karena kita harus selalu siap siaga dengan membawa baju ganti, kalau tidak ya siap-siap pergi dan pulang dalam keadaan basah kuyup, karena pada festival ini kita akan diguyur dan ditembak dengan pistol air oleh siapa pun yang tidak kita kenal dan kita tidak boleh marah, membalas boleh..tapi dengan air juga. Kami juga tidak mau ditindas, sampai disana kami membeli pistol air untuk pembalasan karena mereka tidak segan-segan "menembak" siapa pun yang lewat. Ada yang lebih sadis, menyiapkan air dalam drum dan diberi es batu. Siapa yang lewat akan diguyur. 
Sempat waktu kami di salah satu MRT disana, ada turis asal Indonesia yang mengatakan "Kalo airnya dikasih cabe seru kali ya?" Gila juga orang Indonesia ternyata lebih jahil hihi..

Beberapa foto waktu ke Thailand
Tiba di Bandara Suvarnabhumi Bangkok


Markland Hotel Pattaya

View dari hotel

Salah satu jalan di Pattaya


Nunggu MRT atau lebih dikenal dengan BTS


Sleeping Budha

Madam Tussaud Bangkok



Toko tutup, yang ada hanya air dan air

Megah dan Artistik-nya Bandara Suvarnabhumi


Kesimpulan:
* Makanan : Enak, cocok di lidah, harga terjangkau, paling suka sama Manggo Saladnya
* Masyarakat : Ramah dan sopan, kurang menguasai bahasa Inggris
* Transportasi Umum: Cukup murah dan mudah dicari (sebelum ada Grab dll)

Wednesday, March 4, 2015

Drama Delay

Bagi yang sering naik pesawat, jenis apapun, yang namanya delay tidak akan bisa dihindari. Pesawat delay memang paling bikin betek! Untungnya saya masih termasuk yang hoki untuk urusan delay, belum pernah sih delay berpuluh-puluh jam atau berhari-hari kayak kasus Lion Air beberapa waktu lalu. Bayangkan berapa kerugian materi dan non materi yang diderita akibat delaynya sebuah penerbangan.

Nonton berita di TV ataupun baca di media online, sejumlah penumpang mengamuk dan bahkan memblokir terminal bandara Soetta. Belum lagi tidak ada kejelasan dari pihak maskapai yang tidak memberikan kompensasi apapun. Hal ini tentu saja bikin image Indonesia semakin jelek di mata international.

Selama saya pergi ke beberapa bandara di luar Indonesia, entah kenapa ya saya belum pernah mengalami yang namanya delay. Tapi di bandara-bandara Indonesia, apalagi penerbangan domestik, yang namanya delay sudah tidak heran lagi. Dan kita pun sebagai penumpang kadang kalau penerbangannya on time malah heran, hehehe.

Delay paling parah yang saya alami itu waktu penerbangan Jakarta-Pontianak menggunakan pesawat berlogo singa yang delay hampir 5 jam. Flight yang seharusnya berangkat pukul 06.30, belum ada tanda-tanda panggilan boarding dari embak-embak yang biasa nongkrong di waiting room. Akhirnya 2 jam kemudian barulah dipanggil, legaaaa...Sudah di pesawat selama kurang lebih 1 jam, saya pun sudah sempat tidur saking ngantuknya, eh pas bangun-bangun pesawat belum take off juga. Omaigat. Barulah ada pengumuman dari pramugari kalau seluruh penumpang disuruh turun karena pesawat tidak bisa berangkat dengan alasan gangguan teknis. 2 jam kemudian baru seluruh penumpang dinyatakan berangkat secara official. Selama menunggu itu kami cuma dikasih nasi kotak.

Ada lagi, waktu saya dari bandara Suvarnabhumi di Bangkok menggunakan pesawat Tiger Air tahun 2013 lalu. Ini bukan gara-gara delay, tapi emang keoonan gara-gara salah dengar dan baca papan informasi. Tiba di bandara, kami langsung check in, pas selesai check in saya membaca di papan informasi bahwa penerbangannya delay. Ok, masih ada waktu shopping-shopping di bandara. Pas udah selesai shopping, saya melihat tulisan di papan informasi bahwa nomor penerbangan kami "Final Call" dengan font berwarna merah, yang artinya kami harus ngibrit karena nama kami sudah dipanggil-panggil.

Bandara Suvarnabhumi itu gede banget, jangan mentang-mentang sudah check in terus bisa santai-santai kayak di Soetta? huh tamat riwayat kau! Kami harus lari sekencang mungkin untuk menggapai Gate yang kami tuju, saya sudah tidak melihat kiri kanan depan belakang lagi. Pokoknya lari secepat mungkin. Pas sudah tiba di pintu pesawat dan duduk, baru saya sadar..Cici saya menghilang! Oh Tuhan, panik berlanjut! Saya ke pintu pesawat dan ternyata pintu sudah ditutup, saya sudah tidak diperbolehkan keluar oleh pramugarinya. Tegang, panas dingin bercampur. Setelah 5 menit kemudian, baru cici saya nongol, saya tanya dia dari mana katanya dia duduk di lorong pesawat, kecapean mau pingsan habis lari hampir 1km ditambah drama salah arah dan kami belum sempat makan. Sumpah! 



Wednesday, April 30, 2014

Macau: Negara Casino yang Sangat Kaya


Mendarat di sebuah negara kecil yang bernama Macau membuat saya sedikit takjub dengan negara kecil ini. bagaimana tidak, negara kecil yang tidak punya wisata alam sama sekalipun bisa mendatangkan banyak turis setiap harinya terutama di hari weekend.

Sedikit pengetahuan yang saya tau dari penduduk lokal yang menjadi Tour Guide kami selama di Macau Ms. Lynn, Macau merupakan negara bekas jajahan Portugis selama 400 tahun, artinya lebih lama dari pada Belanda menjajah Indonesia. Tetapi bekas-bekas peninggalan Portugis masih sangat kental dan terasa disana, contohnya di setiap nama jalan selalu ada dua bahasa yaitu bahasa Mandarin dan bahasa Portugis. Bangunan-bangunan disana juga masih banyak yg bergaya Portugis. Sebagian besar penduduk mereka adalah Chinese dan Macanese (penduduk hasil perkawinan campuran antara Chinese dan Portugis) menggunakan bahasa Mandarin dan Cantonese.
Photo: suasana imigrasi di terminal kapal Ferry Macau 

Sebutan Macau sendiri berasal dari sejarah A-Ma Temple. A-Ma Temple merupakan sebuah kuil yang dibangun tahun 1488 sebagai dedikasi kepada Mazu yang dikenal sebagai the goddess of seafarers and fishermen (Dewi para pelaut dan nelayan). 

Ketika para pelaut dari Portugis mendarat di tanah ini, mereka menanyakan apa nama tempat ini. Penduduk lokal yang merupakan penduduk China dari provinsi Fujian menyebutnya dengan "A-Ma Gok" dari bahasa Fujian yang berarti negerinya A-Ma.
Oleh orang Portugis mereka tidak bisa menyebutnya dengan tepat, mereka menyebutnya Macau, maka jadilah nama Macau hingga saat ini.

Macau memiliki dua pulau yaitu Taipa Island dan Macau City atau yang lebih dikenal dengan Macau Peninsula yang dihubungkan oleh jembatan besar. Selain itu Macau sedang gencar-gencaran mengembangkan Reclaim Land (Pulau reklamasi), di atas pulau reklamasi itu sendiri dibangun sebuah Tower yang disebut Macau Tower yang merupakan bangunan tertinggi di negara tersebut, dari Macau Tower itu sendiri kita dapat melihat satu negara Macau. Untuk naik ke Macau Tower yang tingginya 61 lantai tersebut, kita harus merogoh kocek cukup dalam yaitu sebesar HKD 125 (IDR 187,500). Oh ya disana kita dapat menggunakan dollar Hongkong untuk bertransaksi dimanapun, jadi tidak perlu repot untuk ke money changer menukar uang Macau.
Photo: Jembatan Taipa-Macau

Photo: Macau dari Macau Tower

Photo: di atas jembatan Taipa-Macau (di tengah-tengah adalah Pulau reklamasi

Transportasi umum disana sepenglihatan saya hanya ada bus dan taxi, ada juga becak tradisional, tapi jarang dijumpai. Jangan kaget Taxi dan bus disana jalannya ngebut-ngebut (tapi tidak ugal-ugalan kayak sopir metromini) Entah kenapa, Mungkin karena jalanan yang sepi, kendaraan pribadi sangat sedikit. Sementara penduduk disana banyak juga yang menggunakan sepeda motor jenis matic.
Photo: Parkiran becak tradisional


Tidak sulit menemukan Casino di negara ini, karena di setiap hotel bintang sudah pasti dilengkapi dengan arena Casino. 
Terdapat kurang lebih 80-an Casino di Macau. What?? Luar biasa bukan? Jumlah ini melebihi jumlah Casino di Las Vegas Amerika Serikat. Indonesia satu aja belum punya (atau ga akan punya? *tengok2 Ormas yang suka sweeping).
Menurut saya jika Indonesia punya Casino lumayan juga untuk mendatangkan turis manca negara, selain itu juga bisa mendapatkan penghasilan dari sektor pajak. Come on Indonesia! Yang penting dikelola secara profesional, Malaysia aja ada kok.


Di Macau sendiri, sebagian besar pendapatan negaranya didapat dari  "Gambling Tax" yaitu pajak yang dikenakan kepada para pengusaha Casino dan para pemain yang memenangkan judi Casino. Dari hasil pajak itu sendiri, pemerintah menginvestasikan kembali uang tersebut ke Bank untuk kesejahteraan rakyatnya, seperti wajib belajar 15 tahun secara gratis dari Taman Kanak-Kanak sampai dengan High School, pemeliharaan para lansia, janda dan anak yatim piatu, biaya berobat gratis kepada para pelajar dan para PNS.
Menurut cerita Ms Lynn, jika penduduk mereka ada yang bercerai dan anak-anak tinggal dengan ibunya maka pemerintah akan memberikan tanggungan sebesar MOP 1,800 (sekitar IDR 2,700,000) kepada ibunya, dan tanggungan maximal 2 orang anak sebesar MOP 1,800 per anak. Sejahterah bukan? Dari hasil pajak Casino saja bisa mensejahterahkan satu negara! Wow!


Ada lagi yang menarik dari negara Casino ini, Casino di Macau hanya dikuasai oleh 3 orang yaitu Stanley Ho, Las Vegas, dan Galaxy Group. Sebelum tahun 1990, oleh pemerintah China seluruh Casino hanya boleh dimiliki oleh pengusaha lokal yaitu Mr. Stanley Ho sendiri yang sampai saat ini memiliki 36 Casino di Macau, salah satunya yang paling besar adalah Grand Lisboa dan The Venetian. Selain berbisnis Casino, Stanley Ho juga berbisnis properti, real eastate, entairtainment, dll. Saking kayanya mungkin dia sampai memiliki 4 orang istri (1 sudah meninggal). Ckck..


Saya sempat mengunjungi Grand Lisboa, ketika masuk dari pintu depan kita langsung dapat menyaksikan permainan Casino. Di ruangan dalam, suasana sangat ramai sekali, para pemain judi Casino bervariasi mulai dari remaja sampai lansia. Saya pun tertarik untuk menyaksikan battle game antara 2 orang boss besar yang keduanya dikawal oleh beberapa body guard yang ganteng-ganteng (ups salah pokus), tidak seperti body guard di film-film yang sangar dan serem :D
Saya tidak ikut main, berhubung kere dan irit-iritan dengan membawa uang pas-pasan di negeri orang. Hiks..hiks T.T
Photo: Casino Lisboa 

Photo: Penampakan Grand Lisboa, sangat glamour

The Venetian sendiri di design dengan sangat lengkap, ada restoran, tempat bermain Casino, hingga pusat perbelanjaan. Kenapa dinamakan Venetian? Mungkin design di dalamnya yang seperti Negara Venice di Eropa, di tengah pusat perbelanjaan yang terletak di lantai bawah kita dapat melihat perahu yang berlalu lalang dan dikendarai oleh mas-mas bule mengitari The Venetian.



Tempat wisata lainnya adalah bekas reruntuhan gereja St. Paul, sangat ramai sekali para turis yang mendatangi tempat ini. Padahal cuma ada gereja yang tinggal tembok -_- (not a recommended place). Di dekat gereja terdapat toko-toko Souvenir khas Macau, tetapi harganya cukup mahal.


Hanya kurang dari 1 hari saja saya sudah mengelilingi Macau, start dari jam 10 sampai dengan jam 4. Sangat kecil bukan? Paling segede Bandung.
Sebagai bangsa Indonesia kita harus benar-benar bersyukur, kita dikasih Tuhan alam yang indah dan negara yang besar. Tinggal bagaimana kita aja yang menjaga dan memeliharanya. Dan tentu saja saya juga banyak belajar dari negara kecil ini.